Semangat Dakwah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
Semangat Dakwah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 4 Jumadil Akhir 1447 H / 25 November 2025 M.
Kajian Tentang Semangat Dakwah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Dari Abu Zaid Amr ibnu Akhtab Al-Anshari Radhiyallahu ‘Anhu. An-Nawawi Rahimahullah berkata:
وعَنْ أَبي زَيْدٍ عمْرُو بنِ أخْطَبَ الأنْصَارِيِّ رضي اللَّه عَنْهُ قَال: صلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم الْفَجْر، وَصعِدَ المِنْبَرَ، فَخَطَبنَا حَتَّى حَضَرَتِ الظُّهْرُ، فَنَزَل فَصَلَّى. ثُمَّ صَعِدَ المِنْبَر حَتَّى حَضَرتِ العصْرُ، ثُمَّ نَزَل فَصَلَّى، ثُمًَّ صعِد المنْبر حتى غَرَبتِ الشَّمْسُ، فَأخْبرنا مَا كان ومَا هُوَ كِائِنٌ، فَأَعْلَمُنَا أحْفَظُنَا. رواهُ مُسْلِمٌ.
“Dari Abu Zaid, namanya adalah Amr bin Akhtab Al-Anshari Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata: Pernah suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat Subuh bersama kami, kemudian beliau naik ke mimbar. Beliau berkhutbah kepada kami sampai waktu Dzuhur tiba. Kemudian beliau turun, lalu shalat (Dzuhur). Kemudian beliau naik lagi ke mimbar dan berkhutbah kepada kami sampai waktu Ashar tiba. Kemudian beliau turun, lalu shalat (Ashar). Kemudian beliau naik lagi ke mimbar dan berkhutbah kepada kami sampai matahari terbenam. Beliau menyampaikan kepada kami apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi. Orang yang paling mengetahui di antara kami adalah orang yang paling kuat hafalannya.” (HR. Muslim)
Hadits ini menjelaskan semangat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk mengajarkan perkara-perkara agama kepada umat beliau. Beliau menyampaikan segala sesuatu: hal-hal yang sudah terjadi dan hal-hal yang akan terjadi. Semua ini tentu sebagai peringatan bagi umat beliau.
Karena khutbah yang panjang itu, Amr Radhiyallahu ‘Anhu menyebutkan bahwa orang yang paling memahami dan paling mengetahui tentang isi yang disampaikan oleh beliau adalah orang yang paling kuat hafalannya.
Hadits ini menjelaskan semangat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, cinta, dan kasih sayang beliau kepada umat beliau, sehingga beliau berupaya semaksimal mungkin untuk menyampaikan segala sesuatu, baik kebaikan-kebaikan dunia dan akhirat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan, maupun peringatan-peringatan dari hal-hal yang harus dijauhi.
Hal ini menunjukkan pentingnya pelajaran agama dan pentingnya mengambil ilmu dari sumbernya. Ilmu yang benar bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah. Bahkan, ilmu-ilmu umum pun jika dipelajari, hendaknya diambil dari sumber aslinya.
Hadits ini juga menjelaskan tentang kesaksian para sahabat Radhiyallahu ‘Anhum bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menyampaikan semua risalah. Tidak ada satu pun perkara yang diperintahkan Allah ‘Azza wa Jalla untuk disampaikan kepada umat manusia yang luput dari penyampaian beliau. Ini disaksikan oleh para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Maka sering terdengar perkataan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah:
- menyampaikan Risalah Allah Subhanahu wa Ta’ala,
- menunaikan amanah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala pikulkan kepada beliau dari risalah Allah ‘Azza wa Jalla kepada umat manusia,
- menasihati umat ini dengan nasihat terbaik dari lubuk hati seorang yang mencintai umatnya agar mereka selamat dari azab Allah Subhanahu wa Ta’ala,
- dan beliau telah meninggalkan umat ini di atas jalan yang putih bersih, terang benderang.
Semua sudah disampaikan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tugas umat adalah mempelajari agama Allah ‘Azza wa Jalla, mempelajari Al-Qur’anul Karim, dan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Hadits ini juga menjelaskan bolehnya, dalam kondisi tertentu, menyampaikan pelajaran dalam waktu yang panjang. Inilah yang menjadi dasar adanya daurah-daurah ilmiah (pelatihan keilmuan) di zaman sekarang.
Namun, tidak setiap orang yang menyampaikan materi dalam daurah mampu melakukan seperti yang dilakukan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yaitu memulai khutbah setelah shalat Subuh, beristirahat hanya untuk salat Dzuhur, dan melanjutkan khutbah kepada para sahabat sampai waktu Ashar tiba.
Beliau menyampaikan kembali apa yang ingin disampaikan kepada mereka sesudah shalat Asar hingga terbenamnya matahari. Ini menunjukkan kekuatan luar biasa yang dimiliki Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan kekuatan tersebut karena beliau adalah pengemban risalah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang terakhir, yang diamanahkan untuk seluruh umat manusia.
Dengan demikian, dalam kondisi tertentu, boleh diadakan kajian atau pelajaran dengan mengambil waktu yang panjang, misalnya satu hari penuh atau dua hari, sesuai dengan materi yang ingin disampaikan kepada peserta.
Hadits ini juga menjelaskan bahwa daya ingat dan pemahaman setiap orang berbeda-beda. Oleh karena itu, Amr bin Akhtab al Anshari radhiyallahu ta ‘ala anhu mengatakan pada akhir hadits ini:
“Orang yang paling paham (tentang apa yang disampaikan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada hari itu) adalah orang yang paling kuat hafalannya.” (HR. Bukhari)
Hal ini menunjukkan adanya perbedaan pada manusia dalam hal menangkap dan menyimpan sesuatu yang disampaikan. Bersyukurlah orang-orang yang diberikan kekuatan oleh Allah Ta’ala, terutama kekuatan daya hafal dan dada yang lapang penuh dengan ilmu. Ini merupakan nikmat yang besar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Lebih lanjut, hadits ini menjelaskan tentang manusia yang paling paham, paling alim, dan paling mengetahui tentang apa yang Allah ‘Azza wa Jalla sampaikan, yaitu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau adalah wadah ilmu dari Al Qur ‘anul Karim (wahyu Allah ‘Azza wa Jalla ) dan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Maka, sudah menjadi kewajiban bagi umat dan merupakan hak Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam atas umatnya agar selalu memperbanyak ucapan shalawat kepada beliau karena telah berbuat yang terbaik bagi umat ini, demi mendapatkan kebaikan di dunia maupun di akhirat. Pengutusan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merupakan nikmat yang besar dari Allah Ta’ala .
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang mukmin ketika (Allah) mengutus seorang Rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri. Rasul ini Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, menyucikan jiwa-jiwa mereka dengan mengajarkan tauhid dan ibadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla, serta mengajarkan Al-Kitab dan Al-Hikmah (sunnah) untuk tazkiyatun nufus. Tujuannya adalah untuk membersihkan jiwa mereka dari kesyirikan menuju tauhid, dari kejahiliahan menuju ilmu, dan seterusnya dari nikmat-nikmat Islam yang Allah Azza wa Jalla anugerahkan kepada umat manusia secara menyeluruh, khususnya bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan iman dalam hati sampai akhir kehidupan, meninggalkan dunia ini dalam keadaan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dalam keadaan bertauhid, menyembah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan istiqamah di atas sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yakni istiqamah di atas agama yang benar sebagaimana yang dipahami oleh para salafush shalih radhiyallahu anhum ajma’in : sahabat, tabi’in , dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.
Download MP3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/55831-semangat-dakwah-rasulullah-shallallahu-alaihi-wa-sallam/